PEREMPUAN PENASEHAT

Nada dering ponsel ku berbunyi. Pesan dari atasan ki membuat ku jenuh saja malam-malam begini masih sempat meminta ku merancangdraft rapat bulanan besok pagi. Aku sekarang intership disalahsatu kedutaan besar di Jakarta. Sudah menginjak bulan ke-4 aku cukup menikmati hari-hari bersibuk ria disana. Kecuali sms malam ini, menganggu ku yang bermaksud malam ini ingin banyak membaca novel Dee yang dihadiahi temanku minggu lalu. Aku membalas sms beliau, Ok Mr!.

Sebenarnya memang harus disms oleh beliau kenyataannya sebelum disms belum aku kerjaan.hehe sifat jelek ku kadang terulang. Sering menunda atau teman kuliah ku Eka memberiku predikat miss deadliner.hoho

Entah bagaimana terjadi memori pertemuan dan perkenalan ku dengan seseorang teringat jelas malam ini. Padahal bukan hanya dia yang ku temui apalagi itu tiga bulan yang lalu.

Pertemuan yang tak terencana dan perkenalan yang memalukan bagiku. Bagaimana aku tidak malu, aku malah menganggap dia adalah junior ku. Sok tua kan aku.huhu dan kalian tahu, dia senior ku di SMA tepatnya alumni kami, sebelum aku lulus dari SMA kami itu. Oh, berarti betapa youngface dong dia, ya sih agak agak lah ya.hehe

Lantas,motif apa aku masih mengingat perkenalan tersebut? Mata. Aku teringat mata nya yang khas dan tipe mata yang aku sukai.dan sudah terbukti beberapa teman laki-laki yang pernah ku dekat selalu berawal dari mata. Hmm..setelah pertemuan dibandara aku sudah memutuskan memberi panggilan ku sendiri untuk dia ini walaupun setelah pertemuan itu tidak ada komunikasi diantara kami.

Tuan mata sipit, aku memanggilnya.

Malam ini tiba-tiba rindu akan mata itu. Aku berharap ada kesemoatan lagi untuk bertemu nya dan menatap mata itu. Dan aku mengkhayal kami saling menatap dalam diam dan itu manis.

Aku pernah membaca, ketika dua orang saling mencinta begitu dalamnya, mereka berkomunikasi cukup dengan cara diam saling menatap dan mrlebihi makna nisbi yang terkandung dalam kata-kata. Romantis, bagiku.

Iww...draft yang kurancang belum kelar juga beradu dengan khayalan ku yabg agak agresif malam ini.

Akhirnya kelar juga, aku menghempas diir.ditempat tidur ku setelah menutup ms.word dilaptop ku dan tentu menyimpannya difolder intership ku secara rapi.
Aku meraih ponselku diatas nakas yang sedari tadi belum kulihat lagi ada notifikasi masuk. Tanpa berpikir jernih, aku mencari-cari kontak mu. Dan mengirimkan mu pesan sekedar bertanya kabar. Ini kali pertama aku mengirimkan mu pesan setelah kiya bertukar nomor tiga bulan lalu dibandara kota kita.

Tak perlu waktu lama  kamu membalas pesan ku. Lho, jantung ku berdebar-debar apdahal hanya kamu balas menjawab pertanyaan kabar mu tadi dan kamu balik bertanya kabarku. Alamat baik, gumamku karena kamu mau membalas pesan yang kadang menurutku pesan tanya kabar adalah basa basi.

Namun, kamu tidak sekedar menjawab pertanyaan basa basi ku tadi kamu mengajak ku mengobrol panjang. Ku kira kamu sudah melupakan pertemuan dan perkenalan kita sempat ku ulangi ketika mengawali pesan-pesan ku setelah pertanyaan kabar tadi. Bukan tipemu pelupa menurutku dan seperti perkenalan kita kamu pibtar memulai percakapan. Sekalipun itu hanya percakapan kita melalui apkikasi whatsapp kali ini.

Aku beranjak ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi 'capucino' untuk menemani aku, kita mengobrol panjang malam ini. Seperti yang kuhatapkan diawal tiba-tiba teringat dengan mu. Ponsel ku ramai notifikasi pesan dari mu. Kita mengobrol lagi, sorak ku pelan biar teman sekamar ku tidak terganggu, karena dia sedang sibuk menyusun tugas akhirnya.

Kalau saja kamu melihat ku ekpresi dan reaksi ku malam ini. Aku malu. Aku kesenangan seperti adik sepupu ku dihadiahi boneka barbie kemarin.

Aku hatus pamit terlebih dahulu untuk menyudahi obrolan kita malam ini, aku harus bagun pagi dan berangkat pagi juga untuk besok. Hmm...kamu masih ditempat kerjamu karena kebagian shift malam. Kerjaan kita jauh berbeda. Berbanding terbalik, aku bertemu orang-orang serta bepergian  dan kamu berkutat dengan mesin ditengah teluk atau selat.

Awal komunikasi yang ku harap berlanjut....

Sore ini aku sedang menikmati beberapa berita dan arikel yang mesti ku edit. Oh iya aku juga menyibukkan diri disebuah majalah baru yabg sedang aku dan temanku rintis. Akumenjadi editor utama karena kami memang hanya beberapa orang saja. Tak hanya menjadi editor aku juga merangkap sebagai administrasi dan HRD.  cetakan pertama kami sudah bisa dibilang sukses dibeberapa kota kecil di.Indonesia.
Kelihatannya aku sok sibuk ya, aku menikmatinya.

Ponsel ku berdering, aku mengambil ponselku dan notifikasi pesan dari mu. Hmm..obrolan apa lagi ya sore ini tanya ku dalam hati. Lagi, kamu yang memulai obrolan kita dari bercerita tentang keseharian kita masing-masing. Sebuah pertemanan terbentuk batin ku.

Kita bercerita tentang karakter masing-masing. Dan kamu memintaku menganalisis karakter. Kenapa mesti aku gerutu ku. Aku bukan psikologi. Tapi aku punya kertertarikan terhadap membaca karakter orang lain. Apalagi karakter mu.hehe. Aku membaca karaktermu " perfeksionis". Kamu tertawa membaca hasil analisis ku. Bisa jadi analisis ku benar. Dan kamu mengiyakan. Dan tidak berhenti dianalisis, kamu meminta saran dari ku untuk kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari karakter dasar mu itu. Kita berbanding terbalik lagi aku seorang 'plegmatic'.
Ya sore ini mendadak aku menjadi perempuat penasihat untuk Tuan Mata Sipit.

Besok sore aku harus business trip dari majalah ku dan teman ku  untuk beberapa hari dibelitung. Untuk perjalanan pertama ku kebelitung. Kamu juga sedang mrnikmati jatah libur mu dirumah, bercengkrama dengan keluarga mu seperti yang kamu ceritakan kepada ku.

Belitung menawan dan cantik. Aku pasti merindukan tempat ini seperti kebanyakan orang merindukannya pula. Kamu yang sedang liburan bagaimana kabarnya? Kita masih berkomunikasi dengan kamu spertinya rutin menanyakan aktivitas ku di sini dan aku candu dengan notifokasi pesan-pesan dari mu.

Plan aku mau langsung balik ke jakata berubah karena mendapat telpon dari patner majalah kami di Bangka untuk menyetujui kerja sama. Sepulang menikmati pantai tanjung kelayang betsama sahabatku monik dibelotung aku memesan tiket ke bangka penerbangan paling pagi. Kemudian dibandara aku bertemu sepasang kaken nenek dari jerman dan sempat bercerita, mereka juga penerbangan tujuan bangka. Aku teringat kamu, andai ada kesempatan traveling bersamamu seperti mereka.aih, aku menepis khayalan ku diruang tunggu kecil ini. Hmm..kamu juga lagi dibangka ya. Berharap ada kesempatan betemu, bukankah kita lago dibumi yang sama. Tak ada laut yang memisah hany jalan yang menjnjuk arah.

Tiba di bangka aku menginap dirumah bibi ku, karena dirumah Ibu dan Bapak ku tidak dirumah mereka masih dengan kesibukan panen padi kami tahun ini.

Malam ini...
Ponsel kupenuh debgannotifikasi email tentunya juga pesan dari mu. Aku selalu menyempatkan membalas dan mengirimi mu pesan, kita sempat-sempat saja mengobrol sepanjang hari di jam-jam tertentu. Kali ini kamu mengintrogasi kehidupan percintaan ku.entah mantra apa yang kau bacakan untuk ku, sungguh aku bukan tipe yang mudah menceritakan hal pribadi ku kepada orang lain, apalagi laki-laki dan apalagi tentang kehodupan percintaanku yang masih gagal otomatis aku sekarang masih single.

Tapi aku seolah ingin kamu tahu tentang ku, kenapa?
Tadi ku pikir aku saja yang akan menceitakannya ternyata tidak, kamu juga dengan sendiri menceritakannya tentang percintaan mu yang sama srkali belum terjamah, belum sampai titik mencapai dan belum gagal. Oh mungkin taktik mu untuk percaya diri menceritakan tentangmu harus mendengar tentang ku dulu. Baiklah.

Cerita cinta lebih mengenaskan dari ku mnurutku  hehhe..dari belum terjamah, belum tercapai dan belum gagal. Entahlah.

Tentang menyukai adik kelas dan menyatakannya atas bantuan teman dan senior kemudian ditolak mentah-mentah. Tak berhenti disana kamu masih berjuang untuk mendapatkan hatinya. Dan dalam obrolan kita untuk kedua kalinya kamu meminta petuah dari ku.haruskah kali ini aku menjadi seorang ahli percintaan? Sedang aku saja masih minus dalam urusan ini. Terlepas dari itu, beruntung sekali dia yang kamu perjuangkan batin ku. Seperti beruntungnya aku menangkap pesona mata mu diawal temu kita.

Tipe laki-laki seperti mu tidak mudah menyukai teman perempuanmu samahalnya seperti aku menyukai mu.bukan hal mudah atau kebetulan.
Kalau saja yang kamu taksir itu teman kerja pasti aku tidak akan mengenalinya, tapi ini teman ku yang kamu taksir. Kadang ku berpikir alasan mu membuat pertemanan dengan ku untuk membuat jematan usahamu mendapatkan dia. Sore ini aku lemas. Tapi begitu naas nya aku berpikir payah tentang mu. Aku berpikir lagi itu sebuah kesempatan mu, barangkali aku menjadi jembatan itu dan kamu mencapainya.

Kita membuat membuat misi, aku membantu mu untuk menyampaikan rasa mu kepada dia, temanku. Disela itu aku sempat berharap bisakah kamu menyampaikan perasaanmu nanti untuk ku saja. Saat ini kita bekerja sama kamu untuk mendapatkan hati dia dan aku mendapatkan hati mu. Aku tertawa miris terhadap angan ku. Sungguh, aku mendukung mu saat inidengan dia. Teman ku lebih baik menjaga mu dan bersama ku daripada aku. Aku menjadi peremouan nasihat untuk mu saja sunggu beruntung. Ya kuulangi lagi perempuan penasihat.

Share:

0 komentar