TUAN MATA SIPIT
"Anak asrama ya? " tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba didepan ku.
Entah dari sebelah mana dia datang. Aku tidak mengenalnya. Aku pun
memasukkan laptop kedalam tas ku.
"Hhmm...ya, kok tau? "
tanya ku polos. Dia masih berdiri didepanku. Bangku disebelahku tidak
ada yang kosong. Begini lah kalau keberagkatan sore ruang tunggu bandara
dikota ini ramai. Banyak yang memilih penerbangan sore hari suasananya
agak santai.
Hari ini aku tidak sendiri seperti biasanya
adek ku turut ikut ke Jakarta juga sehingga aku juga tidak begitu
direpotkan menyeret koper ku. Mumpung ada yang membantu.
"Iya tau, karena almamaternya" jawabnya dengan senyum yang mengajak berkenalan.
Aku pun mengulurkan tangan, Julie. Dia pun menyebut namanya, Putra.
"O kamu Julie yang bla..bla..bla "seloroh dia.
Aku pun mengulurkan tangan, Julie. Dia pun menyebut namanya, Putra.
"O kamu Julie yang bla..bla..bla "seloroh dia.
Aku bingung, loh kok dia tau tentangku. Aku mendadak kepedean. Hehe
Perkenalan pun mengalir menjadi obrolan panjang dan bertukar nomor telpon.
Hal yang agak memalukan sore itu, aku mengira dia tau tentang ku dari siapa gitu, ternyata dia sering stalking pada salahsatu akun media sosial ku.
Perkenalan pun mengalir menjadi obrolan panjang dan bertukar nomor telpon.
Hal yang agak memalukan sore itu, aku mengira dia tau tentang ku dari siapa gitu, ternyata dia sering stalking pada salahsatu akun media sosial ku.
Kemudian,
kami sama almamater. Sama-sama alumni, aku kira dia adik kelasku
ternyata dia senior jauh ku.bisa dibilang sepuh. Bayangkan,seorang aku
sangat tidak pintar membaca dia. Habis his face is baby face.lol. Well, dia terbahak mendengar tebakanku.
Disela obrolan kami aku memberanikan diri melihat lekat dia. What the hell, matanya mata yang membuat mata ku candu untuk melihatnya. Tipe ku batinku.
Suaranya pun.mengingatku dengan seseorang, shit banget. Dengan kulit putihnya dipadu dengn kos putih pas dibadan,jeans, sneaker tipe perfek namun santai. Baca ku.
Aku berasa tak ingin melihat kearah man lagi kecuali matanya. Mata sipit khas. Hhmm.. keturunan chinesse rupanya senior ku ini.
Ada untungnya penerbangan kami delay sore ini, sehingga aku bisa.berlama - lama mengobrol. Tetapi dia sebentar lagi juga take off. Itu artinya abrolan kita harus berakhir hari ini Tuan Mata sipit.
Sepanjang dua puluh tiga tahun kehidupanku, aku tidak percaya dengan namanya kebetulan.coincidence. Serendipity. Its all bulshit. What a coincidence.
Aku
percaya ini sebuah kesempatan, kamu tiba-tiba datang dan memberi kesan
ketertarikan ku. Untuk mengenalmu. Panggilanuntuk keberangkatan mu pun
terdengar.
Selamat sampai tujuan, kata ku dibalas lambain mu dan senyum menarik mata mu yang sipit seolah menghilang. Semoga nantinya ada kesempatan bertemu mu lagi,harapku dalam hati.
Selamat sampai tujuan, kata ku dibalas lambain mu dan senyum menarik mata mu yang sipit seolah menghilang. Semoga nantinya ada kesempatan bertemu mu lagi,harapku dalam hati.
0 komentar