MEMORI
Shit!!!! memori ku bukan seperti tulisan dipasir pantai yang terhapus ketika disapu ombak.
Wishlist
ku sudah ada yang mulai ku jalani, salahsatunya 'traveling'. Lumayan
mendapat liburan tiga hari aku bermaksud kabur dari Ibukota ini. Aku
bersama teman-teman kantor ku memilih berlibur dipuncak. Menginap
divilla, bermandi embun pagi hari dan menyegarkan mata oleh bentangan
hijau kebun teh dengan sedikit mengenakan baju tebal biar tidak
menggigil dinginnya puncak.
Sifat ku, menjadi sendiri
diantara kebersamaan teman-temanku disela itu aku mengenangmu. Mengenang
kita saling menjauh, sampai detik ini tak kunjung pesan mu salahsatu
dari beberapa notifikasi ponselku.
Usaha ku untuk
benar-benar menjauhi dan tak mengingat mu tidak begitu meyakinkanku.
Aku mudah untuk melepasmu dan berakhir menyukai mu. Terlepas dari
insiden aku tidak suka kamu tahu terlalu banyak tentangku.semakin aku
melipat sekecil-kecil mungkin kenangan tentangmu semakin terbuka
lipatannya dan parahnya menganga. Sepertinya bukan begitu cara nya. Aku
pun berimajinasi dengan kata-kata atas perasaan ku kepada mu. Tentang
rindu yang masih tergenang dalam diriku.
Itu tentang aku,
kamu? Kamu pun menjauhi ku entah karena ketidakcocokan mu akan cerita
dari temanki itu atau mungkin cerita kita sudah waktunya berakhir.
Liburan
ku membuang penat semua kesibukan pekerjaanku dan menyempat kamu
kembali aku ingat. Nyatanya keras aku mengingatmu semua cerita kita.
Kembali
kepada pekerjaanku dan menghadiri undangan dari temanku dalam rangka
launching his new project. Aku menikmati menggunakan angkutan umum
'transjakarta' menuju tempat acaranya. Ponsel ku beberapa kali bergetar
tanda ada yang menelpon, ah paling juga teman ku yang sudah.tiba disana
dan menanyakan aku sudah sampai mana. Kemudian notifikasi dengan nada
pesan yang belum sempat aku ganti , pesan dari mu. Aku mengambil ponsel
daridalam tas ku dan betul pesan dari mu.
Cool...pesan mu
seolah kita tak pernah saling menjauh dan masih hangat seperti
kemarin-kemarin kamu rutin menagih cerita ku. Malah ini lebih hangat
karena kamu ingin mengirimkan suara mu bukan hanya mengetik kata-kata.
Kamu mau.menelponku dan kita mengobrol. Aku cepat membalas pesan mu, ku
katakan nanti malam saja katena aku sedang menghadiri undangan temanku.
Kamu mengiyakan.kalau saja bukan project yang nantinya tidak melibatkan
ku ku pastikan undangan ini kubatalkan. Aku memilih menhobrol dengan mu.
Rindu yang bukan saja menggenang dan mengapung. Aku tenggelam dalam
kerinduan pada mu.
Sumpah, aku tidak fokus sama sekali aku mau cepat-cepat pulang dan menerima telpon dari mu.suara khas mu aku menyukai mu.
Acara terasa begitu lama diotakku hanya dua pertanyaan jam berapa selesainya dan apa mau mu menelpon ku??
Sudah
ku duga, masih kamu menagih cerita keseharian ku apalagi bukan sehari
aku tak menceritakan padamu. Tapi, aku kecewa dengan cara mu disela
seperti tak ada apa-apa kamu kembali mengusik ku dengan rasa inhin tau
mu jauh tentang ku..Damn!! Ku mohon sedikit kamu mengerti dimana
pagar-pagar ku. Artinya itu batas untuk mu. Tak perlu berulangkali aku
katakan atau cukup kamu yang sudah dewasa mengerti maksud ku. Tuhan,
menyukainya aku terluka dan melepasnya aku sangat terluka. Terluka bukan
pilihan masuk akal. Pilihan bodoh. Dalam bodoh aku pernah menyukainya
dan terukir kesan-kesan begitu indah dan berakhir aku harus menjauhinya.
Hati ku lebih punya hak untuk merasa bahagia, barangkali tanpa mu.
0 komentar